31 Mar 2013

Bacalah Ayat Kursi

ayat kursi


Ayat Kursi

☑ Baca pada saat keluar rumah,
70000 malaikat akan menjagamu dari semua sisi.

☑ Baca saat masuk rumah,
Kemiskinan tidak akan memasuki rumahmu.

☑ Baca setelah berwudhu,
Derajatmu akan dinaikkan 70 tingkat.

☑ Baca pada saat tidur,
Malaikat akan menjagamu sepanjang malam.

☑ Baca setelah sholat,
Maka jarak antara kamu dan surga hanyalah kematian.


SUBHANALLAH...

Umur Manusia






Ternyata Cm 1,5 jam saja umur kita hidup di dunia ini, simak saudara-saudari­ku..

Mari kita lihat berdasarkan Al Qur'an sebagai sumber kebenaran absolut.


  • 1 hari akhirat = 1000 tahun.
  • 12 jam akhirat = 500 tahun.
  • 3 jam akhirat = 125 tahun.
  • 1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.
Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja. Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.

Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka.
(QS 35:15, 4:170).

Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah (QS 74:7,52:48,39:1­0).

Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dgn sunnahNya (QS 12:53, 33:38).

"Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah (QS 9:72, 98:8, 4:114).
Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Allah berfirman: " Kamu tidak tinggal ( dibumi ) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (QS 23:114)

Semoga bermanfaat bagi kita semua ... 

By : Zhiewa Netral

26 Mar 2013

Belajar Ikhlas

Ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas). 

Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.

Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”

Ibadah Dan Rezeki

" IBADAH DAN REZEKI "





Orang bilang, nggak ada tuh, hubungan ibadah dengan rejeki. Gak ada hubungan antara ibadah dan kesuksesan finansial. Yang ada hubungannya tuh, ibadah dan akhirat. Siapa – siapa yang ibadahnya bagus, maka akan allah beri ganjaran surgaNya. Allah jauhkan dari neraka. Benar, tidak ada yang salah dengan pendapat seperti ini. Tapi, jangan salah, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan rejeki kita. Rezeki, sangat kuat hubungannya dengan sholat, tilawah qur’an, sedekah, dan amal – amal ibadah kita yang lain. Bagaimana kalau kemudian kita bilang, siapa yang bagus ibadahnya, tentu Allah sangat senang. Jika Allah sudah senang sama seseorang dikarenakan ibadahnya, tentu doanya akan lebih cepat diijabah oleh Allah, termasuk doa minta rejeki, kesuksesan hidup, kesuksesan finansial. Juga, ini katanya Allah, janjinya allah, bukan katanya maupun janjinya manusia. Kita – kita manusia, kalo ngomong kan suka pake insya Allah, nah kalo Allah, nggak butuh pake insya Allah atas semua janji – janjiNya. 



“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagiNya. Dan dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka – sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya allah melaksanakan urusannya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu”. (QS At talaq: 2-3).


Nah saudaraku, udah kebayangkan? Bahwa taqwa, tawakal, beribadah itu sangat erat kaitannya denagn rezeki kita. Ya, yang disebut rezeki kan juga termasuk rezeki kesehatan, umur yang berkah, hidup bahagia, sukses karir, prestasi di dunia kerja atau akademik, dan lainnya.


Di dalam kehidupan sehari – hari, saya begitu banyak mendapati mereka yang menjaga ibadahnya, rezekinya selalu dicukupkan oleh Allah, bahkan berlimpah. Bener, saya nggak bohong. Di kosan saya sendiri (kami menyewa rumah dengan enam orang penghuninya), seorang teman yang kalo setiap berdoa, saya perhatikan begitu khusyuk, begitu perhatian sama doa yang digantungkan pengharapanNya pada sang Maha Mengabulkan doa. Satu hal yang juga rajin beliau lakukan, setiap nelpon orangtuanya, selalu minta doa. Alhasil, teman saya ini, adalah seorang mahasiswa yang berprestasi dari segi akademik. Kuliah di kedokteran selama tiga setengah tahun dan mendapat gelar sarjana kedokteran, lulus yudisium tepat pada waktunya (padahal waktu pulang ujian akhir beliau bilang ke kita – kita yang di rumah, dia yakin nggak bakalan lulus ujian kali ini, karena banyak salahnya pas jawab ujian), dan langsung masuk co assdi rumah sakit pendidikan M. Djamil. Beliau juga mengaku, entah kenapa, rasanya hidupnya selalu ‘hoki’. Seberapa beratpun masalah yang dihadapi, selalu aja ada jalan keluar yang Allah berikan. Dari segi organisasi pun, beliau juga sukses. Pernah menjabat ini itu di berbagai organisasai, juga pernah menjabat sebagai koordiantor acara ilmiah tingkat nasional. Paska organisasi, beliau juga kerap diundang sebagai pemateri dalam berbagai event kampus. Itu saja? Belum cukup. Beberapa bulan yang lalu beliau juga akan berangkat ke Mesir dalam rangka “Research Exchange”.


Ini cerita yang pertama. Cerita yang kedua, dari sebuah toko perlengkapan muslim langganan saya. Sebut saja namanya Mbak Reni (nama samaran). Beberapa waktu yang lalu saya sempat sedih karena Mbak Reni dalam sms yang dikirimkannya mengatakan tokonya sudah pindah. Pemilik toko (jadi beliau mengontrak) mengambil kembali tokonya. Saya begitu sedih, karena tokonya dekat dari kosan saya, juga mbak Reni yang ramah dalam melayani pembeli. Namunamazing, beberapa bulan setelahnya, Mbak reni kembali membuka toko perlengkapan muslimnya, beberapa toko dari tempat dagangnya semula. Bahkan, lebih luas. Yang membuat saya terkagum – kagum, bahkan di samping toko barunya ini, berdiri juga toko milik saudaranya. Setelah saya amati, ternyata rahasia mereka adalah dengan menjaga sholatnya. Perdagangan tidak membuat mereka lalai dalam melaksanakan solat!!. Jika telah masuk waktu sholat, toko tutup sementara. Beberapa waktu sebelum masuk waktu sholat, mereka telah mengambil ancang – ancang meletakkan palang di depan toko, pertanda sebentar lagi Allah akan memanggil melalui muazinNya. Allah akan datang, memberikan kemenangan, termasuk kemenangan dalam masalah rejeki. Hayya ‘alassholah, hayya ‘alal falah.


Demikian sedikit cerita saya terkait ibadah dan rejeki. Semoga dapat menginspirasi teman – teman semua. Mari kita percaya, yakin terhadap janji – janji Allah. Mungkin, selama ini (termasuk saya sendiri), ada keraguan dalam mengimani janji – janjinya, sehingga apa – apa yang Allah janjikan belum terwujud dalam kehidupan kita. Mungkin kita kurang yakin, sehingga hal – hal yang bersifat ‘miracle’, belum mampir dalam hidup kita. Sebagaimana persangkaan kita terhadap Allah, begitu pula persangkaan Allah terhadap kita. 


Wallahu ‘alam bis showab, semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.

25 Mar 2013

Ruginya Orang Yang Hanya Mengejar Duniawi




Dunia dalam genggamanNya

“ Jika hanya dunia yang kau kejar, sungguh betapa tidak adilnya dunia ini.”

Kalimat ini pertama kali saya dengarkan pada saat mengikuti Training ESQ. Entah kenapa belakangan ini sering kali terngiang-ngiang di kepala saya.

Benar adanya bahwa dunia ini sungguh tidak adil. Tidak perlu jauh-jauh, ada teman satu kost yang tinggal di sebelah kamar saya. Beliau bekerja di galangan kapal. 7 hari dalam seminggu. Berangkat kerja jam 6.30 pagi dan baru pulang lagi jam 9.30 malam. Setiap hari seperti itu. Penghasilan, saya kira tidak lebih besar, minimal sama lah dengan saya yang bekerja dengan 5 hari kerja dari jam 7.30 pagi – 4.30 sore.

Kalau mau lihat ke sekeliling saya, bisa lebih banyak lagi saya temukan mereka yang bekerja lebih keras tapi dari segi pendapatan tidak seberapa.

Nah, kalau sudah di posisi mereka ini, mau bekerja sekeras apapun ya agak susah juga untuk mencapai kehidupan yang makmur. Sekalipun mungkin yang namanya kebahagiaan urusan masing-masing. Ada saja kan orang yang meskipun kehidupannya susah, namun masih bisa bahagia. Karena kebahagiaan letaknya ada di hati. Faktor internal, bukan faktor eksternal.

Memang betul ada sebuah ayat yang berbunyi :


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.13 : 11)

Dan ini menjadi landasan kita untuk berusaha secara maksimal di dunia ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Bukan malah pasrah pada keadaan yang menempatkan kita di posisi sulit dan serba susah. Namun demikian, tetap hak prerogatif ada di tangan Allah untuk menentukan hasil dari setiap upaya kita.
Menjalani Peran Yang Diberikan Sebaik Mungkin

Alhamdulillah, bila kemudian setiap upaya yang kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah dan kita berada pada posisi yang lebih baik. Minimal berkecukupan, meski tidak melimpah atau ultra kaya (walaupun menjadi kaya itu lebih bagus). Bagaimana ternyata bila kehendak Allah lain adanya. Bagaimana bila ternyata Allah memberikan kita peran kehidupan pada posisi yang susah tersebut. Mau protes?

Pada akhirnya kita harus ingat tujuan awal perjalanan hidup ini. Kenapa kita dilahirkan ke dunia, tidak lain sudah Allah jawab :


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.56 : 51)

Itulah tujuan hidup kita yang sebenarnya. Bila kita menjadi kaya, bagus. Karena itu akan menjadi penunjang ibadah kita. Dengan kekayaan tersebut, kita bisa berbuat baik lebih banyak lagi. Namun, andaikata kita diberi peran orang susah pun, tujuan hidup ini masih tetap sama. Tidak lain untuk beribadah kepada Allah.


Maha Besar Allah yang menggenggam alam semesta dan isinya

Di akhir hayat nanti pun kita akan kembali kepadaNya. Menanti hari dimana akan dimintai pertanggungjawaban atas janji kita kepada Allah, sebelum dilahirkan ke dunia ini.


“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (QS.7 : 172).

Bagaimana mempertanggungjawabkan janji ini? Tentu saja dengan beribadah kepada Allah, apapun keadaan kita. Baik itu dalam keadaan senang, maupun susah. Apapun peran kita di dunia, seyogyanya kita jalani sebaik mungkin. Dengan visi jangka panjang, jauh menembus alam akhirat nanti. Bagi yang bertaqwa, surga balasannya :


Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS.38 : 49-50)

Jika Hanya Dunia Yang Kau Kejar

Jika hanya dunia yang kau kejar, sungguh betapa tidak adilnya dunia ini. Jika tujuan jangka panjang (akhirat) yang kau kejar, setidaknya bila dunia tidak dalam genggamanmu masih ada kebahagiaan terakhir yang lebih kekal sebagai balasan atas seluruh pengadian dan ibadah kita selama hidup di dunia ini. Dan janji Allah adalah benar.

Kesimpulan dari semua yang saya tulis ini bukan bermaksud untuk mematahkan semua upaya Anda untuk menjadi lebih baik. Bukan bermaksud untuk membuat Anda semakin malas berjuang meraih kualitas hidup yang lebih baik. Justru agar kita semua (termasuk saya pribadi), menjadi lebih bersemangat dalam menjalani peran kita masing-masing dengan tetap berada pada garis tujuan dilahirkannya kita ke dunia ini, untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah Sang Pencipta.

Dan bila pada akhirnya peran kita hanya sebatas pada hidup yang berkecukupan, maka masih ada tujuan jangka panjang yang bisa kita kejar sesudah kehidupan dunia yang singkat ini berakhir.Jangan sampai jadi orang yang merugi. Sudah di dunia susah, di akhirat susah juga. Agar lebih semangat temukan saja nilai spiritual pada peran yang sedang kita jalani.


Jika taman dunia ini begitu indah, apalagi taman surga

Semoga Allah memudahkan semua urusan kita di dunia ini sehingga bisa menyempurnakan ibadah hingga rukun Islam yang ke-5. Amin…

Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.